Translate This Entries?

Tampilkan postingan dengan label Terbaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terbaru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2012

Konsep Dan Teori Kehilangan

Kehilangan dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang bersifat universal dan unik secara individual. Hidup adalah serangkaian kehilangan dan pencapaian. Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi dan menerima kehilangan. Duka cita adalah respons alamiah terhadap kehilangan. Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan kehidupan kita sehari-hari (Potter&perry, 2005)
Kehilangan karena kematian merupakan suatu keadaan pikiran, perasaan, dan aktivitas yang mengikuti kehilangan. Keadaan ini mencakup dukacita dan berkabung. Menurut Rando (1991) dalam Potter&Perry (2005) Dukacita adalah proses mengalami reaksi psikologis, sosial, dan fisik terhadap kehilangan yang dipersepsikan. Respons ini termasuk keputusasaan, kesepian, ketidakberdayaan, kesedihan, rasa bersalah, dan marah. Berkabung adalah proses yang mengikuti suatu kehilangan dan mencakup berupaya untuk melewati dukacita. Proses dukacita dan berkabung bersifat mendalam, internal, menyedihkan, dan berkepanjangan.

Dukacita mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku. Tujuan dukacita itu sendiri untuk mencapai fungsi yang lebih efektif dengan mengintegrasikan kehilangan ke dalam pengalaman hidup seorang individu. Pencapaian ini tentu membutuhkan waktu dan upaya. Setiap individu memiliki strategi yang berbeda dalam menghadapi dukacita, seperti yang dikemukakan Harper (1987) dalam Potter&Perry (2005) merancang sebuah tugas dalam strategi menghadapi dukacita dengan akronim “TEAR” yang artinya :
  1. T- Untuk menerima realitas dan kehilangan
  2. E- Mengalami kepedihan akibat kehilangan
  3. A- Menyesuaikan lingkungan yang tidak lagi mencakup orang, benda, atau aspek diri yang hilang
  4. R- Memberdayakan kembali energi emosional ke dalam hubungan yang baru
Respons Dukacita Khusus: Dukacita adaptif dan terselubung
Dukacita adaptif termasuk proses berkabung, koping, interaksi, perencanaan, dan pengenalan psikososial. Sedangkan dukacita terselubung terjadi ketika seseorang mengalami kehilangan yang tidak atau tidak dapat dikenali, rasa berkabung yang luas, atau didukung secara sosial (Potter&Perry, 2005).
Dukacita sebenarnya respons normal terhadap setiap kehilangan. Konsep dan teori berduka hanya cara yang dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan emosional seorang individu agar dapat merencanakan intervensi untuk menghadapi dukacita. Ada beberapa teori berduka diantaranya :
Teori Engel
Engel (1964) dalam Potter&Perry (2005) mengajukan bahwa proses berduka mempunyai tiga fase yang dapat diterapkan pada seorang individu yang berduka dan menjelang kematian.
  • Fase pertama individu menyangkal realitas kehilangan dan mungkin menarik diri, menerawang tanpa tujuan. Reaksi fisik dapat mencakup pingsan, berkeringat. Mual, diare, frekuensi jantung cepat, gelisah, insomnia, dan keletihan.
  • Fase kedua adalah individu mulai merasa kehilangan secara tiba-tiba dan mungkin mengalami keputusasaan. Secara mendadak terjadi marah, rasa bersalah, frustasi, depresi, dan kehampaan. Menangis merupakan salah satu bentuk khas adanya penerimaan dari suatu kehilangan.
  • Fase ketiga, dikenali realitas kehilangan. Mulai mengenali hidup, bangkit dari rasa kehilangan dan berkembang kesadaran diri.
Teori Kubler-Ross
  • Teori ini berfokus pada perilaku dan mencakup lima tahapan di antaranya :
  • Tahap menyangkal individu bertindak seperti tidak terjadi sesuatu dan menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilngan.
  • Tahap marah individu melawan kehilangan dan dapat bertindak pada seseorang dan segala sesuatu di lingkungan sekitarnya.
  • Tahap tawar menawar terdapat penundaan realitas kehilangan.
  • Tahap depresi terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilngan tersebut timbul. Pada tahap ini ada upaya untuk melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah.
  • Tahap kelima dicapai suatu penerimaan.
Fase berduka Rando
  • Penghindaran, di mana terjadi syok, menyangkal dan ketidakpercayaan.
  • Konfrontasi, di mana terjadi luapan emosi yang sangat tinggi.
  • Akomodasi, secara bertahap terdapat penurunan kedukaan dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari. 
 
Perbandingan Tiga Teori Proses Berduka
Engel (1964)
Kubler-Ross (1969)
Rando (1991)
Syok dan tidak percaya
Menyangkal
Marah
Tawar menawar
Penghindaran
Mengembangkan kesadaran
Depresi
Konfrontasi
Mengenali dan restitusi
Penerimaan
Akomodasi

Rabu, 31 Oktober 2012

Puisi-Puisi Untuk Ibu

Okelah langsung saja untuk menyimak Puisi Ibu dibawah ini.

DOA UNTUK IBU
Puisi Mutia Fitriyani

Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani

DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa

Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun

Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku

Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada

Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu


TANGISAN MATA BUNDA

Puisi Monika Sebentina

Dalam Senyum mu kau sembunyikan letih mu
Derita siang dan malam menimpa mu
tak sedetik pun menghentikan langkah mu
Untuk bisa Memberi harapan baru bagi ku

Seonggok Cacian selalu menghampiri mu
secerah hinaan tak perduli bagi mu
selalu kau teruskan langkah untuk masa depan ku
mencari harapan baru lagi bagi anak mu

Bukan setumpuk Emas yg kau harapkan dalam kesuksesan ku
bukan gulungan uang yg kau minta dalam keberhasilan ku
bukan juga sebatang perunggu dalam kemenangan ku
tapi keinginan hati mu membahagiakan aku

Dan yang selalu kau berkata pada ku
Aku menyayangi mu sekarang dan waktu aku tak lagi bersama mu
aku menyayangi mu anak ku dengan ketulusan hati ku

 Untuk Ibu Ia Berdo'a


Ibunya baru saja dimakamkan
Badan terkubur penuh penyesalan
tujuh langkah sudah ditinggalkan
Munkar Nakir datang menanyakan

Ia duduk lunglai di bangku kayu
Tunduk terkulai tubuhnya lesu
Segan bicara mulut membisu
Enggan beranjak memikirkan ibu

Tak terhitung jumlah kebaikan
Kasih ibu sepanjang jalan
Bukannya ia tak berbalas budi
Tapi, amalan mana mencukupi

Rasul menyebut ibu tiga kali
Sedangkan ayah satu kali
Berbantah “ah” dosa sekali
Ridho ibu ridholah ilahi

Dan ia pun mengangkat tangan
sebagaimana do’a dipanjatkan
sebagaimana salam disampaikan
Kepada Allah minta ampunan