Translate This Entries?

Tampilkan postingan dengan label Gokil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gokil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 November 2012

Spesies Terlangka: Kumbang Tanpa Kepala?

Ross Winton, mantan mahasiswa ilmu serangga di Montana State University sedang melakukan penelitian di sebelah tenggara Montana. Tiba-tiba ia terkejut menemkan serangga kecil, seekor kumbang berjalan walau tanpa kepala.

Winton langsung mengadakan penelitian lebih jauh. Ternyata kumbang tersebut punya keistimewaan, yakni bisa menyembunyikan kepala seperti kura-kura. Ladybug, atau kumbang koksi ini diperkirakan sebagai serangga paling langka di dunia.



edmontonjournal.com

"Spesies kecil ini dikenali hanya dari dua ekor saja, satu pejantan dan satu betina. Karena hal ini, serangga tersebut memenuhi syarat untuk menjadi spesies paling langka di Amer ika Serikat (AS)," ujar seorang entomolog di Montana State University sekaligus mantan pembimbing Winton, Michael Ivie.

Saat ini yang menambah penasaran Winton adalah, menyelidiki biologi koksi. Apalagi hanya serangga jenis ini yang bisa menarik kepalanya ke dalam tubuh. Tapi mungkin harus menunggu hingga ditemukan koksi lain sebelum Winton memutuskan untuk mengambil pisau bedah guna mencari tahu anatomi si koksi.

"Spesies ini sangat tidak umum karena ukurannya yang kecil, habitat yang unik dan kelangkaannya. Namun fakta bahwa kumbang tersebut menyembunyikan kepala ke dalam leher membuat biologinya menjadi misteri," pungkas Winton.

Unik, Tradisi Adu Kepala Dari NTB


Bagi warga Bima, Nusa Tenggara Barat, musim panen adalah saat yang membahagiakan. Oleh mereka perayaan musim panen ini dilakukan dengan sebuah tradisi unik yang disebut entubu. Entubu adalah tradisi adu kepala manusia.


Gerakan pemanasan sebelum adu kepala


Satu penari dengan posisi bertahan dan yang lainnya dengan posisi penyerang





Tradisi entubu atau adu kepala ini merupakan tradisi kas peninggalan nenek moyang warga Bima di Pulau Sumbawa. Tradisi ini hanya ada di daerah dataran tinggi Kecamatan Wawo dan hanya bisa dilakoni oleh orang-orang tertentu yang sebelumnya sudah dibekali kesaktian atau dari keturunan prajurit Kesultanan Bima.

Tidak mengherankan memang jika para pelakunya tergolong orang kuat dan nekad. Tanpa rasa sakit mereka mengadu kepala satu dengan lainnya. Dalam ritual entubu ini para pengadu yang jumlahnya empat sampai enam orang diiringi oleh musik kas warga Bima dan seorang penyanyi hikayat perempuan yang dengan suara kasnya membacakan mantra-mantra.

 Sebelum melakukan ritual entubu, para pengadu yang dipimpin oleh seorang dalang atau pemuka terlebih dulu dibekali kesaktian oleh sang dalang. Layaknya orang kesurupan mereka yang sudah dibekali ilmu ini langsung menari-nari menantang lawannya untuk beradu kepala.

Kasim salah seorang pemandu atau dalang mengungkapkan, untuk melakukan upacara entubu ini ia terlebih dulu harus berpuasa sampai tiga hari untuk mengetahui waktu dan mendapatkan kesaktian bagi para pengadunya.

Tradisi entubu yang unik ini memang sudah mulai langka dan jarang didapatka lagi di kota Bima. Namun belakangan ini oleh Pemda setempat tradisi ini mulai dikembangkan dan dilestarikan dengan membangun beberapa sanggar kesenian sejenis.